Kabut pasir! Hujan batu kerikil! Juga caci-maki!
Anak-anak, hamba sahaya, juga tetangga keluarga Amr bin Umair bin
Auf ats-Tsaqafi berhamburan keluar rumah. Berbaris. Berjajar di
sepanjang jalan dari rumah penguasa kota Thaif itu. Batu kerikil di
tangan. Pasir berguguran dalam genggaman. Mulut-mulut berteriak penuh
cacian. Mereka seperti berlomba melempar.
Dua orang lelaki tak berdaya tertatih di bawah hujan batu, kerikil,
dan pasir serupa terseret di dalam badai gurun sahara yang terik.
Mereka mengarahkan batu-batu itu ke kaki Nabi. Kedua kakinya luka
menganga. Berdarah-darah. Manusia yang mulia itu bahkan sampai harus
berjalan merangkak-rangkak menahan sakit. Zaid bin Haritsah yang
menyertainya pun tak luput dari sasaran. Kepalanya luka parah berkucur
darah terkena lemparan batu. Sementara kerikil, batu, dan pasir tak
henti beterbangan dari tangan-tangan keluarga Bani Tsaqif itu.
Caci-maki dan ejekan terus berlangsung hingga kedua lelaki itu
sampai di sebuah kebun di luar kota. Mereka pun bubar. Nabi dan Zaid
lalu berteduh di tempat itu. Menunggu luka terhenti dan mengering.
Barang sesaat. Demi mengetahui kalau kebun itu milik Utbah dan Syaibah
bin Rabi’ah yang juga memusuhi beliau di Mekah, Rasul pun mengadu.
“Ya, Allah! Kepada Engkaulah aku mengadukan kelemahan kekuatanku dan
sedikitnya daya upayaku dan kehinaan bagi manusia, ya Tuhan Yang Maha
Penyayang kepada orang-orang yang berkasih sayang.*”
***
Abu Thalib baru saja wafat. Hanya berselang hari, Khadijah yang amat
dicintainya pun pergi untuk selamanya dari sisinya. Lelaki itu telah
kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dalam waktu yang hampir
bersamaan, serupa kehilangan kaki untuk melangkah sekaligus punggung
buat bersandar.
Ia memang seorang Nabi. Tetapi ia pun seorang manusia biasa.
Kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dan selama ini menjadi
tulang-punggung dakwahnya tentu merupakan pukulan yang berat. Tidak ada
dukacita yang lebih besar beliau rasakan sejak bertemu Jibril di Gua
Hira kecuali saat itu.
Tekanan Quraisy pun menjadi. Cercaan, hinaan, dan perlakuan
menyakitkan dari mereka siang malam terus diterimanya. Tak henti. Nabi
lalu pergi secara diam-diam ke Bani Tsaqif di Thaif untuk mengobati
dukanya ini. Semula beliau membawa harapan yang besar, mengingat pemuka
mereka masih keluarga dekatnya. Tetapi, apa yang kemudian dialaminya
bersama Zaid sungguh jauh panggang dari api. Alih-alih mengharap pelita
segera terpetik di daerah sebelah tenggara Mekah yang subur itu. Justru
yang beliau terima adalah hujan batu dan sumpah-serapah.
***
Ketika keduanya selesai beristirahat di kebun itu dan kemudian
meneruskan perjalanan kembali ke Mekah, datanglah malaikat Jibril
diiringi malaikat penjaga gunung.
“Ya, Rasulullah!” kata Jibril. “Sesungguhnya Allah telah mendengar
perkataan kaummu dan penolakan mereka kepadamu. Dia telah mengutus
malaikat penjaga gunung supaya engkau perintahkan kepadanya apa yang
engkau kehendaki atas kaum Bani Tsaqif itu.”
“Ya, Rasulullah,” sahut malaikat penjaga gunung. “Jika engkau mau
supaya aku melipatkan kedua gunung yang besar ini di atas mereka,
niscaya akan aku lakukan.”
Gunung Abu Qubais dan Qa’aiqa’an tampak kokoh berhadapan di kejauhan
bak dua raksasa yang berdiri diantara Mekah dan Thaif. Melemparkan
keduanya ke atas perkampungan Bani Tsaqif akan serupa hujan batu atas
kaum Sadum ketika mendustakan Nabi Luth as.
“Tidak, Jibril!” jawab Nabi tegas. “Bahkan aku berharap
mudah-mudahan Allah memberikan kepada mereka keturunan yang
menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
***
Serupa apakah cinta sejati itu? Jika “cinta” saja, kata John Ralston Saul, penulis dan filosof dari Kanada, disebut sebagai a term which has no meaning if defined, apalagi cinta sejati.
Mungkin cinta jika cuma terkatakan hanyalah berarti setengah cinta
atau cinta setengah. Kalau tidak malah cinta setengah-setengah.
Sebagian besar cinta boleh jadi justru mengejawantah pada
selain indahnya kata. Pada senyum yang tulus, mata yang teduh, tangan
yang terulur, bahu yang memikul, kaki yang bergerak ringan, hingga
dekap erat-hangat.
Cinta juga terlihat pada kesediaan berbagi, menjalani, dan
berkorban, apa saja, demi sesuatu atau seseorang yang dicinta. Dan
barangkali cinta mencapai puncaknya ketika seseorang mau bertaruh nyawa
untuk sang kekasih, berkorban hingga tetes darah terakhir demi yang
dicinta.
Bagaimana halnya jika seseorang merelakan dirinya terluka oleh yang
dicinta dan tak pernah mau memendam dendam untuk suatu saat menuntut
balas jika berkesempatan? Aha! Boleh jadi, inilah cinta sejati. Itulah cinta yang nyaris tak bertepi. Seperti kata Kahlil Gibran suatu kali,
Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku.
Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.
Rasulullah adalah sosok pribadi dengan cinta yang nyaris tak bertepi
itu. Batu kerikil yang beterbangan menyayat luka di kulit, darah yang
mengalir diiringi sakit, juga cacian, hinaan, ejekan, dan
sumpah-serapah yang diterimanya pada peristiwa di Thaif rasanya sudah
lebih dari cukup untuk tidak pernah dimaafkan. Kalau perlu dituntut
balas dengan sepadan perih.
Ia memang manusia biasa. Tetapi bagaimanapun, ia bukanlah manusia
biasa seperti kita. Kecintaan pada yang dicintanya sungguh tiada
berbatas. Dan yang amat dicintanya itu tidak lain adalah kaum kepada
siapa beliau diutus. Termasuk kita!
Dan cinta itu ditunjukkannya nyaris pada sepanjang hayat. Bahkan
ketika saat-saat terakhir menjelang beliau pergi, bagian dari yang
disebut bibirnya yang mulia adalah ummati, ummati. Umatku, umatku. Sungguh cinta kepada umatnya dibawanya hingga tarikan nafas terakhir.
Begitu pulalah yang terjadi di jalan antara Thaif dan Mekah itu.
Ketika kedua malaikat menawarkan diri melempar kaum Tsaqif dengan dua
gunung sebagai bentuk balasan atas penghinaan itu, Rasulullah hanya
menggeleng. Meski kaumnya memusuhinya begitu rupa, cintanya kepada
mereka sudah terlanjur tak bertepi.
***
“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan supaya aku menuruti
keinginanmu terhadap kaummu, Ya Rasulullah,” sambung Jibril, demi
mendengar jawaban Nabi, “karena perbuatan mereka kepadamu.”
Lemparan batu, kerikil dan pasir masih membekas di tubuhnya yang
mulia. Peristiwa penghinaan itu masih sangat segar di ingatan. Bahkan
luka di kedua kaki beliau belum juga mengering. Tetapi beliau justru
memanjat doa.
“Ya Allah! Tunjukkanlah (jalan yang lurus) kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.”
Jibril dan malaikat penjaga gunung kemudian sama-sama berkata, “Maha
benar Tuhan yang telah menamakan dirimu pengasih serta penyayang!”**
***
* Sebagian doa Nabi sebagaimana HR. Imam Thabarani dari Abdullah bin Ja’far)
** Termaktub dalam kitab tarikh masyhur, juga HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra
Dimuat pada rubrik Napak Tilas Majalah Al-Mu’tashim edisi Agustus 2006